jejakterkini.online – Kadang ada rasa jemu nulis keracunan MBG. Gitu-gitu aja endingnya. No tersangka, SPPG di-suspend, kepalanya dipecat. Setelah itu, menunggu keracunan berikutnya. Kali ini giliran santri Manba’ul Hikam. Ratusan bergelimpangan. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Selasa, 1 September 2026, giliran ratusan santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Desa Putat, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, diduga keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis.
Paket datang pukul 11.30 WIB. Sekitar pukul 13.00 WIB, setelah salat Zuhur, makanan disantap. Menunya nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis baby corn, dan apel.
Selepas salat Asar, masalah dimulai. Mual, muntah, pusing, sakit perut, diare, lemas. Menjelang Magrib, puluhan ambulans keluar-masuk pesantren.
Data sementara Dinas Kesehatan Sidoarjo mencatat 293 santri dirawat di delapan rumah sakit. Laporan lain menyebut jumlah yang mengalami gejala bisa lebih dari 400 orang. Delapan mengalami gejala berat. Syukurlah, tidak ada korban jiwa.
Bupati Sidoarjo Subandi, Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Kepala Satgas MBG Jatim Emil Dardak, dan pihak pesantren membantah isu adanya korban meninggal.
Sampel makanan sudah diambil untuk pemeriksaan laboratorium. Dapur SPPG Kalitengah juga akan diperiksa.
Pengasuh pesantren KH Abdul Wahid Harun mengatakan gejala awal hanya dialami beberapa santri, kemudian menyebar cepat. Beberapa santri tidak memakan olahan sayuran mengaku sehat. Ada pula kesaksian tumis buncis terasa kecut seperti basi.
Namun publik belum sempat melupakan Berastagi. Siswi korban keracunan MBG asal Berastagi yang sempat dirujuk ke RSU Haji Medan masih dirawat, meski kondisinya berangsur membaik. Beberapa pasien bahkan sudah keluar dari ruang intensif dan ada yang segera diperbolehkan pulang. Syukurlah.
Tetapi pertanyaan publik belum pulang, siapa yang bertanggung jawab? Sejauh informasi yang ada, belum ada satu pun pihak dijadikan tersangka. Dapur SPPG ditutup. Kepalanya dipecat. Udah.
Beginilah yang membuat publik kesal. Korban ada. Ambulans ada. Rumah sakit ada. Investigasi ada. Tersangka? Entah ke mana. Mungkin sedang ikut program MBG di dimensi lain.
Tentu tersangka tidak boleh ditetapkan sembarangan. Harus ada bukti dan proses hukum. Tetapi kalau memang ditemukan kelalaian, publik ingin melihat pertanggungjawaban jelas, bukan sekadar dapur ditutup lalu cerita dianggap selesai.
Sebab datanya sudah mengerikan. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia mencatat 9.167 korban dugaan keracunan MBG hanya Januari–31 Mei 2026. Sejak Januari 2025 hingga Mei 2026, total korban mencapai 37.270 orang.
Januari 2026 saja hampir 1.900–1.929 korban. Dalam dua bulan pertama 2026, Federasi Serikat Guru Indonesia mencatat sekitar 4.755 korban. Kementerian Kesehatan juga mencatat sekitar 37.000–37.693 korban dugaan keracunan sejak program dimulai, tersebar di ratusan kabupaten/kota dan 36 provinsi.
BGN sudah menutup ratusan hingga lebih dari seribu dapur dianggap tidak memenuhi standar. Pemerintah memasang target zero accident. Namun kasus terus muncul. Konspirasi warung kopi pun lahir. Jangan-jangan yang paling kebal terhadap keracunan bukan makanan, melainkan sistemnya.
Atau jangan-jangan setiap tragedi memang punya SOP. Korban → rumah sakit → prihatin → evaluasi → dapur ditutup → kepala dipecat → selesai. Lalu tunggu episode berikutnya.
Sidoarjo hari ini. Besok? Semoga jangan ada lagi. Rakyat tidak meminta makanan bintang lima. Santri hanya ingin makan, kenyang, sehat, lalu belajar. Bukan makan siang, kemudian sore hari masuk ambulans.
Jangan sampai Makan Bergizi Gratis berubah menjadi, “Makan Gratis, Bonus Rawat Inap.” Karena yang dibutuhkan publik bukan cuma air mata. Bukan cuma dapur ditutup. Bukan cuma kepala dipecat.
Kalau ada kelalaian, ungkap siapa bertanggung jawab. Sebab korban boleh sembuh. Tetapi kepercayaan publik, sekali keracunan, belum tentu mudah pulih.
“Bang, udahlah bahas keracunan. Mau negeri ini bubar pun, MBG harus jalan.”
“Lagi geram, wak. Itu anak orang, bukan tikus. Betapa sedihnya orang tua santri itu. Saya khawatir, keracunan dianggap biasa. Kalau itu terjadi, ya weslah, wak!” Ups









