Suara perempuan dari Pengurus Besar Pergerakan Aktivis Mahasiswa (PB PAM) Sulsel mulai menggema menanggapi kasus pemecatan sepihak terhadap seorang guru honorer di SDN 7 Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Srikandi PAM Sulsel secara tegas mendesak Bupati Jeneponto, Paris Yasir, untuk segera mencopot kepala sekolah yang dinilai mempertontonkan sikap arogan dan tidak beretika.
Video viral berdurasi 2 menit 49 detik yang memperlihatkan Kepala Sekolah membentak dan memecat guru honorer di depan kamera, memicu kemarahan publik.
Srikandi PAM Sulsel menilai kejadian ini adalah tamparan keras bagi dunia pendidikan di Kabupaten Jeneponto.
Astim Julia, perwakilan Srikandi PAM Sulsel, menyatakan bahwa tindakan kepala sekolah tersebut sangat memalukan dan jauh dari nilai-nilai dunia pendidikan.
Menurutnya, seorang pemimpin di sekolah seharusnya menjadi pengayom, bukan justru menjadi “eksekutor” yang antikritik.
“Sangat miris melihat seorang kepala sekolah memukul meja dan mengeluarkan kata-kata tidak pantas kepada guru yang sudah lama mengabdi. Ini bukan sekadar masalah administrasi, tapi masalah etika dan moral seorang pemimpin. Kami tidak bisa membiarkan perilaku arogan seperti ini mencoreng wajah pendidikan kita,” tegas Astim Julia, saat dikonfirmasi, Sabtu (8/1).
Ia juga menekankan bahwa tanggung jawab terakhir berada di tangan Bupati Jeneponto, Paris Yasir.
Bahkan, Ia meminta Bupati tak tinggal diam dan segera menginstruksikan pencopotan Kepala Sekolah SDN 7 Bontoramba guna memberikan rasa keadilan bagi guru honorer yang dizalimi.
“Kami mendesak Bapak Bupati Paris Yasir untuk tidak membiarkan oknum kepala sekolah seperti ini terus menjabat. Kepemimpinan yang arogan akan merusak mentalitas para pendidik lainnya. Bupati harus segera mencopotnya sebagai bentuk komitmen terhadap kesejahteraan guru honorer dan mutu pendidikan di Jeneponto,” tambahnya.
PAM Sulsel juga menyoroti dugaan praktik nepotisme di mana posisi guru honorer tersebut digantikan oleh orang yang diduga jarang mengabdi.
Bagi Srikandi PAM, nasib guru perempuan yang telah mengabdi bertahun-tahun tidak boleh dikorbankan demi kepentingan pribadi oknum pimpinan.
“Jangan hanya karena statusnya masih honorer, hak-haknya bisa dirampas begitu saja dengan ancaman pemecatan. Kami berdiri bersama guru honorer tersebut,” tegas Astim.







