jejakterkini.online – Arena Distribusi Kesejahteraan
Diskusi Serial Hadianto Rasyid – Edisi 10
Oleh : Yahdi Basma, SH.
Pembersihan total Lapangan Vatulemo oleh Pemerintah Kota Palu pada hari ini, 5 Mei 2026, tidak cukup dibaca sebagai agenda teknis kebersihan kota. Ia adalah momentum kebijakan yang justru membuka satu pertanyaan mendasar: untuk siapa sebenarnya ruang publik dikelola, dan bagaimana manfaatnya didistribusikan?
Vatulemo hari ini bukan lagi sekadar ruang terbuka. Ia telah berevolusi menjadi infrastruktur sosial-ekonomi yang hidup — ruang di mana interaksi warga, aktivitas komunitas, dan ekonomi mikro bertemu dalam satu ekosistem yang dinamis. Dalam bahasa yang lebih tegas: Vatulemo adalah “mesin distribusi kesejahteraan” dalam skala kota.
MENGHITUNG NET BENEFIT SOSIAL VATULEMO
Dalam perspektif ekonomi publik, keberadaan Vatulemo pasca revitalisasi dapat diukur melalui konsep net benefit sosial, yakni selisih antara total manfaat yang diterima masyarakat dengan total biaya sosial yang ditimbulkan.
Manfaatnya nyata dan terukur. Dengan estimasi 150–300 lapak UMKM aktif setiap hari, bahkan bisa melonjak hingga 400 lebih pada momentum tertentu, Vatulemo menjadi sumber penghidupan langsung bagi ratusan keluarga. Ini belum termasuk efek turunan: pemasok bahan baku, parkir, transportasi lokal, hingga aktivitas konsumsi warga yang berputar setiap malam.
Dari sisi fiskal, ruang ini telah bertransformasi menjadi aset produktif daerah. Retribusi lapak, pajak kuliner, dan aktivitas ekonomi pendukung menciptakan aliran Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tidak signifikan sebelum revitalisasi. Dengan pendekatan konservatif, kontribusi harian dari ratusan aktivitas ekonomi ini menciptakan basis PAD yang stabil dan berulang, sebuah model ekonomi kerakyatan yang langsung bersentuhan dengan kas daerah.
Namun, net benefit sosial tidak hanya soal angka ekonomi. Ia juga mencakup nilai sosial: ruang interaksi warga, ruang rekreasi murah, ruang ekspresi komunitas, hingga ruang kohesi sosial kota. Dalam konteks ini, Vatulemo adalah ruang demokratis yang inklusif.
BIAYA SOSIAL DAN INTERVENSI NEGARA
Tetapi setiap manfaat selalu memiliki konsekuensi. Kepadatan, sampah, degradasi fasilitas, hingga potensi konflik ruang adalah biaya sosial yang tak terhindarkan. Di sinilah kebijakan penutupan sementara harus dipahami sebagai mekanisme koreksi.
Pembersihan total ini bukan penghentian aktivitas ekonomi, melainkan upaya menjaga agar net benefit sosial tetap positif. Tanpa intervensi semacam ini, manfaat yang besar justru bisa runtuh oleh akumulasi masalah yang diabaikan.
DARI REAKTIF KE PREVENTIF: DISIPLIN BARU TATA KELOLA KOTA
Langkah ini juga menandai pergeseran paradigma: dari reaktif ke preventif. Pemerintah tidak lagi menunggu kerusakan terjadi, tetapi melakukan perawatan berkala sebagai bagian dari disiplin tata kelola.
Ini bukan pilihan populer. Menutup ruang yang sedang ramai berarti menahan perputaran ekonomi sesaat. Tetapi di situlah kualitas kebijakan diuji: apakah berani berpikir jangka panjang, atau sekadar mengikuti tekanan jangka pendek.
TANTANGAN STRUKTURAL KE DEPAN
Keberhasilan Vatulemo justru melahirkan tantangan baru: overkapasitas, informalitas yang tidak terkendali, ketergantungan ekonomi warga, serta potensi pergeseran fungsi ruang publik menjadi terlalu komersial.
Dalam visi yang dibangun Hadianto Rasyid, integrasi antara ruang publik dan penguatan UMKM memang menjadi arah kebijakan. Namun, tantangan ke depan bukan lagi membangun, melainkan menjaga keseimbangan.
PENUTUP: SAATNYA MENJAGA KESEIMBANGAN
Vatulemo hari ini sedang dibersihkan.
Tetapi kota ini sesungguhnya sedang dihadapkan pada pilihan yang lebih besar.
Apakah ruang publik akan terus dibiarkan tumbuh tanpa kendali, hingga pada satu titik kehilangan kualitasnya sendiri?
Ataukah kita mulai menerima bahwa setiap pertumbuhan membutuhkan disiplin, setiap manfaat membutuhkan pengelolaan, dan setiap ruang publik membutuhkan batas?
Di sinilah makna kepemimpinan diuji. Bukan pada seberapa cepat membangun, tetapi pada seberapa konsisten menjaga.
Sebab kota yang baik bukan hanya kota yang hidup, tetapi kota yang tahu cara merawat kehidupannya.
Dan, Vatulemo hari ini, sedang mengajarkan itu…!













