jejakterkini.online – Polemik menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Topejawa, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, memasuki babak baru.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Takalar menyebut hasil sementara pemeriksaan terhadap sampel makanan dari SPPG Topejawa menunjukkan adanya kandungan boraks pada salah satu sampel yang diperiksa.
Kepala Dinas Kesehatan Takalar, dr. Nilal Fauziah, menyampaikan informasi tersebut setelah tim kesehatan melakukan pemeriksaan menyusul kejadian di UPT SD Negeri 58 Lengkese.
Menurut Nilal, pemeriksaan dilakukan setelah Ketua Satgas memerintahkan Dinkes Takalar turun ke lapangan untuk melakukan inspeksi kesehatan lingkungan (IKL) sekaligus mengambil sampel makanan.
“Dari dua sampel yang diperiksa, salah satu makanan memang ditemukan mengandung boraks,” ujar dr. Nilal, Rabu (23/9/2026).
Meski demikian, Dinkes masih perlu memastikan lebih lanjut hasil pemeriksaan tersebut, termasuk jenis makanan dan tahapan pengolahan yang berkaitan dengan temuan tersebut.
Nilal juga menjelaskan bahwa keluhan berupa gatal dan pembengkakan yang dialami sejumlah guru setelah mencicipi makanan belum dapat langsung dikaitkan dengan kandungan boraks.
Menurutnya, keluhan tersebut dapat merupakan reaksi alergi, namun penyebab pastinya masih perlu ditelusuri.
“Gatal-gatal dan bengkak yang dialami guru dan kepala sekolah merupakan salah satu gejala alergi, tetapi belum diketahui penyebabnya, apakah dari tahu atau ayam,” jelasnya.
Sebelumnya, menu MBG yang dikirim SPPG Topejawa ke UPT SD Negeri 58 Lengkese tidak sampai dibagikan kepada siswa.
Pada Senin (21/9/2026), sejumlah guru terlebih dahulu mencicipi makanan tersebut sebagai langkah pemeriksaan sebelum menu diberikan kepada siswa.
Kepala UPT SD Negeri 58 Lengkese, Supriadi, mengatakan empat guru yang mencicipi makanan kemudian merasakan gatal pada bagian mulut. Selain itu, mereka menilai rasa makanan yang dicicipi berbeda.
“Setelah dicicipi, ada empat guru yang mengalami gatal pada bagian mulut. Karena khawatir terjadi sesuatu terhadap anak-anak, makanan tersebut tidak kami bagikan,” kata Supriadi.













