jejakterkini.online – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono melontarkan pernyataan keras terkait kritik terhadap Presiden Prabowo Subianto di media sosial. Ia mengklaim sebagian besar percakapan negatif terhadap pemerintah tidak berasal dari pengguna media sosial asli, melainkan akun robot atau akun palsu.
Pernyataan tersebut disampaikan Sudaryono dalam Rakorda DPD Partai Gerindra Jawa Tengah pada 16 September 2026. Potongan pidatonya kemudian diunggah melalui akun Instagram pribadinya dan menjadi sorotan.
Sudaryono mengklaim lebih dari 60 persen isi media sosial saat ini bukan berasal dari manusia. Menurut dia, akun robot tersebut dapat menentukan isu apa yang kemudian ramai diperbincangkan masyarakat.
“Namun sekarang ini, mungkin 60 persen lebih itu isinya bukan orang. Sehingga apa yang ramai di masyarakat kita ini kemudian ditentukan oleh yang bukan orang,” kata Sudaryono.
Ia kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan kritik terhadap Prabowo. Menurut Sudaryono, ketika Prabowo dihujat di media sosial, belum tentu semua hujatan tersebut merupakan pendapat asli masyarakat. Ia berpendapat sebagian orang kemudian ikut mengkritik karena melihat suatu isu sudah lebih dulu ramai.
“Jadi Pak Prabowo dihujat itu, yang menghujat sebetulnya adalah bukan orang, tapi orang kemudian karena ramai dia ikut menghujat,” ujarnya.
Sudaryono kemudian menuding ada kelompok tertentu yang berada di balik akun-akun robot tersebut. Ia menyebut akun-akun itu dikendalikan oleh oligarki dan koruptor yang disebutnya tidak menginginkan Prabowo terus memimpin Indonesia.
“Dan semua robot-robot itu, itu semua dikendalikan oleh oligarki, koruptor-koruptor yang tidak menginginkan Pak Prabowo itu kemudian terus bisa memimpin bangsa ini,” kata Sudaryono.
Dalam kesempatan yang sama, Sudaryono mengajak kader Gerindra tidak gentar menghadapi kritik di ruang digital. Ia mengatakan Prabowo tidak takut menghadapi berbagai kekuatan, termasuk pihak asing dan oligarki, serta menyerukan agar kader melawan dominasi akun robot di media sosial.
Pernyataan tersebut kemudian mendapat respons dari Kepala Bidang Advokasi Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Iman Zanatul Haeri. Iman meminta pemerintah tidak menjadikan guru maupun akun robot sebagai kambing hitam ketika menghadapi kritik, khususnya terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan kritik terhadap pemerintah seharusnya dipandang sebagai masukan untuk memperbaiki kebijakan.
Sejauh pemberitaan yang ditemukan, klaim Sudaryono mengenai angka lebih dari 60 persen akun media sosial yang disebutnya sebagai robot merupakan klaim Sudaryono. Sumber yang memuat pernyataan tersebut tidak menunjukkan data atau metodologi independen yang menjadi dasar angka tersebut.







