jejakterkini.online – Bank Dunia menilai distribusi subsidi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia masih belum tepat sasaran. Dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026, lembaga tersebut mencatat 20% rumah tangga terkaya di Indonesia menikmati sekitar setengah dari total manfaat subsidi BBM yang diberikan pemerintah.
Temuan tersebut menjadi salah satu dasar Bank Dunia mendorong pemerintah melakukan reformasi subsidi energi agar belanja negara lebih efektif dan tepat sasaran.
Bank Dunia menjelaskan kelompok rumah tangga berpenghasilan tinggi cenderung menerima manfaat subsidi lebih besar karena memiliki tingkat konsumsi BBM yang lebih tinggi dibanding kelompok masyarakat miskin dan rentan.
“20% rumah tangga terkaya justru menerima setengah dari total subsidi BBM,” tulis Bank Dunia dalam laporannya.
Menurut Bank Dunia, lonjakan harga minyak dunia pada awal 2026 kembali menunjukkan besarnya beban fiskal yang harus ditanggung pemerintah akibat skema subsidi energi yang berlaku saat ini. Selain menekan anggaran negara, distribusi manfaat subsidi juga dinilai belum optimal dalam menjangkau kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
Karena itu, Bank Dunia merekomendasikan pemerintah secara bertahap mengurangi kesenjangan antara harga BBM bersubsidi dan harga pasar melalui mekanisme penyesuaian harga yang telah diumumkan sebelumnya.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah juga disarankan memperluas bantuan langsung tunai kepada 40% rumah tangga termiskin agar dampak kenaikan harga energi terhadap daya beli masyarakat dapat diminimalkan.











