jejakterkini.online – Etika seorang publik figur dalam berkomunikasi di media sosial menjadi sorotan setelah Fenny Frans melontarkan ucapan bernada menantang terhadap wartawan dan pengacara saat siaran langsung TikTok. Pernyataan, “Kau wartawan semuanya, tidak takutja biar sama wartawanmu, mauko juga disebut anakmu anak kodok,” memunculkan pertanyaan mendasar tentang cara menyampaikan pendapat, mengelola emosi, dan menghormati pihak lain di ruang publik digital.
Persoalan utamanya bukan soal berani atau tidak takut kepada wartawan, melainkan soal etika: bagaimana seorang figur publik menggunakan bahasa ketika berhadapan dengan pihak yang berbeda pandangan.
Ucapan tersebut disebut muncul setelah seorang penggemar menyinggung keberadaan wartawan dan pengacara di sekitar lokasi. Meski konteks lengkap percakapan masih perlu diverifikasi, pernyataan yang beredar menjadi bahan evaluasi tentang tanggung jawab berkomunikasi di ruang publik, terutama bagi seseorang yang aktivitasnya mendapat perhatian masyarakat.
Setiap orang memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, mengkritik pemberitaan, membantah informasi, maupun menunjukkan ketidaksetujuan. Namun, kebebasan berbicara tidak menghapus pentingnya etika dalam memilih kata dan menyampaikan keberatan.j
Bagi publik figur, tanggung jawab tersebut semakin relevan karena ucapan yang disampaikan di hadapan audiens luas dapat direkam, disebarluaskan, dan memengaruhi cara masyarakat memandang suatu persoalan.
Siaran langsung mungkin berlangsung spontan, tetapi dampak perkataan yang muncul di dalamnya bisa bertahan jauh lebih lama daripada momen ketika ucapan itu disampaikan.
Wartawan dan pengacara bukan pihak yang kebal kritik. Wartawan harus mempertanggungjawabkan pemberitaan berdasarkan fakta dan Kode Etik Jurnalistik. Pengacara pun menjalankan profesinya berdasarkan aturan dan etika hukum.
Jika seorang figur publik merasa dirugikan oleh pemberitaan atau keberatan terhadap tindakan pihak tertentu, ia berhak menyampaikan bantahan dan meminta klarifikasi. Akan tetapi, keberatan yang disampaikan secara argumentatif akan lebih membantu publik memahami persoalan daripada pernyataan yang justru memicu perdebatan tentang cara berbicara.







