Jejakterkini.Online Gowa, — Berbagai istilah unik yang menggunakan kata “bakso” terus bermunculan dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pencinta kuliner. Setelah dikenal bakso raksasa, bakso cinta hingga bakso rudal, kini hadir kuliner unik yang tengah menjadi perbincangan di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, yakni Bakso Tumpa-Tumpa.
Nama Bakso Tumpa-Tumpa bukan sekadar nama. Konsep penyajiannya menjadi ciri khas tersendiri. Setiap pembeli diberikan kesempatan hingga empat kali untuk menuangkan bakso ke dalam mangkok standar yang telah disediakan hingga penuh.
Namun, ada aturan yang harus dipatuhi. Apabila saat menuangkan bakso terdapat bakso yang jatuh dari mangkok, maka kesempatan berikutnya langsung dihentikan. Konsep sederhana tetapi menantang inilah yang membuat Bakso Tumpa-Tumpa menarik perhatian dan mengundang rasa penasaran para pencinta bakso.

Owner Bakso Tumpa-Tumpa, Nurlena Dg Sunggu, saat ditemui wartawan Jejak Terkini Online di warungnya yang berlokasi di Jalan Wahidin Sudirohusodo, Gowa, tepat di depan Rumah Sakit Syech Yusuf Gowa, mengatakan bahwa usaha tersebut baru sekitar delapan hari menempati lokasi tersebut.
“Dulu kami membuka usaha di rumah, tetapi lokasinya berada di dalam lorong sehingga agak sulit ditemukan pembeli. Karena itu kami mencari lokasi yang lebih mudah dijangkau dan akhirnya membuka warung di depan Rumah Sakit Syech Yusuf,” ujar Nurlena Dg Sunggu yang didampingi suaminya, Daeng Usman.
Menurut Nurlena, awalnya usaha tersebut diberi nama Bakso Sunggu Tumpa-Tumpa, yang diambil dari nama belakang dirinya, Dg Sunggu.
“Memang konsepnya Sunggu Tumpa-Tumpa. Pembeli mengambil dan menuangkan bakso ke dalam mangkok standar yang sudah kami sediakan,” jelasnya.

Dari sisi harga, Bakso Tumpa-Tumpa dibanderol cukup terjangkau, yakni Rp20 ribu untuk satu mangkok penuh. Meski harganya relatif murah, pengelola tetap mengedepankan cita rasa dan kualitas sebagai ciri khas produknya.
Nurlena mengungkapkan, pada awal membuka usaha, pihaknya menyediakan sekitar 80 kilogram daging sapi. Namun, seiring meningkatnya jumlah pembeli, kebutuhan bahan baku pun ikut bertambah.
“Awalnya kami hanya menyiapkan sekitar 80 kilogram daging sapi. Tetapi karena pembeli semakin banyak dan setiap hari semakin ramai, otomatis daging yang kami siapkan juga harus ditambah,” tuturnya.
Warung Bakso Tumpa-Tumpa mulai beroperasi sekitar pukul 08.00 WITA hingga sore hari. Namun, jam operasional tersebut dapat berakhir lebih cepat apabila persediaan bakso telah habis.
“Kalau baksonya cepat habis, tentu warung juga cepat tutup,” kata Nurlena.
Produksi Daging Sendiri
Sementara itu, Daeng Usman, suami Nurlena Dg Sunggu, menjelaskan bahwa bahan baku daging sapi yang digunakan untuk membuat bakso berasal dari ternak yang mereka kelola sendiri.
“Saya memang berprofesi sebagai peternak sapi. Jadi untuk produksi bakso ini, kami menyediakan sendiri dagingnya. Kami mempunyai lokasi pemeliharaan ternak di beberapa tempat, termasuk di Tanah Toraja dan Kabupaten Takalar,” jelas Daeng Usman.

Menurutnya, penggunaan bahan baku dari hasil peternakan sendiri menjadi salah satu upaya untuk menjaga kualitas daging yang digunakan dalam pembuatan bakso.
Nurlena Dg Sunggu berharap kehadiran Bakso Tumpa-Tumpa dapat menjadi pilihan baru bagi masyarakat dan pencinta kuliner, khususnya para penggemar bakso.
“Harapan kami, semoga bakso yang kami sajikan dapat dinikmati dan disukai konsumen. Kami juga akan terus menjaga rasa dan ciri khas Bakso Tumpa-Tumpa. Kalau tidak percaya, ayo datang dan ramaikan warung kami,” ajaknya.
Bagi pencinta bakso yang penasaran dengan konsep Tumpa-Tumpa, warung tersebut berada di Jalan Wahidin Sudirohusodo, Gowa, tepat di depan RS Syech Yusuf Gowa.







