jejakterkini.online – Jalan provinsi adalah jalan umum yang pengelolaannya, pembangunan, serta perawatannya menjadi kewajiban dan wewenang Pemerintah Provinsi.
Jalan ini menghubungkan ibu kota provinsi dengan ibu kota kabupaten/kota, atau menghubungkan antar-kabupaten/kota dalam satu provinsi.
Warga menanam pohon pisang di jalan berlubang sebagai bentuk protes keras dan sindiran kepada pemerintah karena jalan rusak tak kunjung diperbaiki.
Selain itu, pohon pisang berfungsi sebagai rambu darurat agar pengendara berhati-hati dan tidak terperosok ke dalam lubang, terutama saat malam hari.
Mereka menanam pisang sebagai simbol kekecewaan terhadap lambannya penanganan infrastruktur.
Beberapa jalan provinsi pernah ditanami pisang seperti jalan poros Sinjai – Malino di Manimpahoi, Desa Saotengnga, Kecamatan Sinjai Tengah, pada 16 Juli 2023.
Jalan ini mengalami kerusakan selama lima tahun tapi tak kunjung diperbaiki.
Jalan provinsi lainnya pernah ditanami pisang ialah jalan poros Sidrap – Soppeng di Desa Tanete, Kecamatan Maritengngae pada 23 Juli 2023.
Kerusakan jalan diperkirakan sekitar 3 Km.
Selain menanam pisang, warga juga membakar ban bekas sebagai bentuk protesnya kepada pemerintah.
Jalan rusak sekitar 3 tahun tak pernah diperbaiki.
Warga Bulukumba juga pernah melakukan aksi tanam pisang sebagai bentuk protes.
Mereka menanam pisang di pertigaan Jalan Poros Bontomanai menuju Kecamatan Kindang, Bulukumba, Rabu (17/4/2024).
Mereka memprotes ruas jalan provinsi sepanjang sekitar 20 kilometer yang tak kunjung diperbaiki.
Terakhir warga Desa Lautang, Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo ramai-ramai tanam pisang di Jl poros provinsi Wajo-Sidrap.
Dalam video yang diunggah akun Facebook milik Anwar Senin (6/7/2026) malam, terlihat puluhan warga menggunakan kendaraan roda dua di Jl poros Lautang.
Mereka menanam pohon pisang dari titik satu ke titik lainnya.
Sepanjang enam kilometer hingga ke batas Kabupaten Sidrap.
Dengan sorot lampu kendaraan, warga berjibaku menanam pohon dibantu alat seperti cangkul dan linggis.
Pohon pisang yang ditanam dengan tinggi beragam, satu hingga dua meter lebih.
Terlihat pula akses jalan yang ditanami, sama sekali belum diaspal.
“Sudah hampir 20 tahun jalan provinsi penghubung Kabupaten Wajo dan Sidrap rusak parah,” ucap Anwar kepada Tribun-Timur.com, Rabu (8/7/2026) melalui pesan Facebook (Massenger)
Akibat jalan yang rusak itu membuat akses warga terhambat.
“Baik akses ekonomi, pendidikan dan kesehatan itu semua lumpuh,” katanya.
“Bahkan tidak pernah sedikitpun tersentuh oleh Pemerintah Pusat,” sambungnya.
Pihaknya mengaku telah mengadu ke berbagai pemangku kepentingan, namun belum mendapat kejelasan.
“Berbagai surat dan aduan sudah kami layangkan tapi tidak ada realisasi,” tegasnya.
Ia menyebut tindakan tersebut bukanlah aksi anarkis, melainkan ungkapan kekecewaan.
“Kami melakukan aksi simbolis tanam pisang di jalan, bukan tindakan anarkis ini adalah tangisan kami,” tuturnya.
Olehnya itu, ia meminta Gubernur Sulawesi Selatan berkenan meninjau dan segera melakukan perbaikan.
“Kami mohon dengan sangat, bapak Gubernur menganggarkan segera untuk perbaikan jalan,” pinta Anwar.
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, tak akan memperbaiki jalan rusak yang telah ditanami pohon pisang.
Hal itu disampaikan Andi Sudirman Sulaiman saat menghadiri Hari Ulang Tahun (HUT) ke-67 Maros di Kantor DPRD, Selasa (7/7/2026).













