jejakterkini.online – Puncak dari pidato kenegaraan Presiden di MPR tahun ini menyisakan satu kisah yang paling menyentuh hati dan sarat makna. Perkenalkan Citra Nur Ramadhani, siswi berusia 10 tahun asal Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.
Mengenakan pakaian adat Bodo khas Sulawesi Selatan yang megah, kehadiran Citra di Gedung DPR/MPR bukan sekadar simbol, melainkan bukti nyata kekuatan sebuah kesempatan.
Dibalik senyum cerianya, Citra menyimpan perjalanan hidup yang penuh liku. Ditinggal sang ayah dan memiliki ibu seorang penyandang disabilitas, ia sempat berada di ambang putus sekolah saat duduk di kelas 4 SD. Demi membantu ekonomi keluarga dan menyambung hidup, ia bahkan harus berkeliling berjualan kacang bungkusan, di tengah ujian berat sebagai korban perundungan (bullying).
Titik balik kehidupan Citra berawal ketika ia bergabung dengan Sekolah Rakyat. Di lingkungan baru yang aman dan mendukung ini, hak belajarnya kembali terjamin, bakatnya diasah, dan ia berhasil menorehkan prestasi membanggakan sebagai Juara 2 di ajang kompetisi karate tingkat kabupaten.
Kisah keteguhan hatinya ini secara khusus disorot oleh Presiden Prabowo Subianto di hadapan para anggota dewan. Suasana sidang pun sempat mencair dan diwarnai gelak tawa ketika Presiden berpesan penuh hangat kepada Citra, “Ya nanti 10 tahun lagi lah kau boleh pacaran. Kau boleh pacaran setelah sabuk hitam [karatemu] jadi…” sebuah gurauan penuh kasih agar ia fokus meraih cita-cita.
Kisah Citra mengingatkan kita semua bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu tidak kekurangan potensi, mereka hanya butuh sebuah kesempatan. Mari terus dukung pendidikan yang merata agar tidak ada anak Indonesia yang tertinggal dalam merajut masa depannya.







