jejakterkini.online – Rentetan kasus dugaan keracunan yang dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di sejumlah daerah. Dalam kurun hanya tiga hari, lebih dari 1.700 siswa dan guru dilaporkan jatuh sakit setelah menyantap makanan program tersebut.
Kasus terbaru dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Lasem, Jawa Tengah, Sidoarjo dan Nganjuk di Jawa Timur, serta Agam, Sumatera Barat. Di Lasem, 752 siswa dan 25 guru dilaporkan sakit setelah mengonsumsi makanan MBG. Sementara di Sidoarjo, ratusan santri juga terdampak.
Ironisnya, ketika persoalan keamanan makanan MBG kembali menjadi sorotan di dalam negeri, Presiden Prabowo Subianto justru membawa program unggulannya tersebut ke panggung internasional.
Saat menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026), Prabowo berbicara mengenai alasan pemerintah menjalankan program Makan Bergizi Gratis. Di hadapan forum tersebut, ia menjelaskan MBG sebagai bagian dari upaya pemerintah memenuhi kebutuhan dasar anak-anak Indonesia dan ibu hamil.
Kontras pun muncul: di dalam negeri, kasus keracunan MBG kembali terjadi dan jumlah korban terus bertambah, sementara di Rusia program yang sama dipromosikan Prabowo sebagai bagian penting dari pembangunan Indonesia.
Badan Gizi Nasional (BGN) sendiri menyatakan sejumlah kasus keracunan MBG telah masuk proses hukum. Beberapa dapur penyedia makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut bahkan telah diperiksa polisi.
Persoalan ini membuat pertanyaan mengenai pengawasan, keamanan pangan, dan evaluasi program MBG kembali mencuat. Sebab, tujuan menyediakan makanan bergizi bagi masyarakat tentu harus berjalan beriringan dengan jaminan bahwa makanan yang dibagikan benar-benar aman dikonsumsi.












