jejakterkini.online – Salah satu sosok yang dinilai menjadi magnet politik paling kuat adalah mantan Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri, Komjen Pol (Purn) Dr. Mohammad Fadil Imran, M.Si.
Jenderal polisi asal Makassar lulusan Akpol 1991 ini dikenal memiliki rekam jejak mentereng.
Sebelum purnatugas pada Agustus 2026, ia sukses mempertahankan rapor tanpa cacat dan meraih pangkat tertinggi tiga bintang (Komisaris Jenderal).
Jabatan strategisnya mulai dari Kapolda Jawa Timur, Kapolda Metro Jaya, hingga Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops).
Saat ini, ia juga aktif mengemban tugas negara di pemerintahan sebagai Wakil Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) yang ditunjuk langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.
Ketokohan Fadil Imran sebagai putra daerah dinilai oleh berbagai pengamat politik sebagai modal besar yang membuatnya sulit ditandingi jika memutuskan maju memimpin Sulawesi Selatan.
Saat diwawancarai secara langsung, pengamat Politik, Arfan, memberikan analisis mendalam terkait kekuatan geopolitik dan modal elektoral yang dimiliki oleh sang jenderal bintang tiga.
“Jika kita melihat konstelasi menuju Pilgub Sulsel 2029, figur Jenderal Fadil Imran ini posisinya sangat premium. Karir militernya di kepolisian selesai dengan status paripurna bintang tiga tanpa cacat. Ini memberikan garansi kepemimpinan yang tegas, bersih, dan berintegritas di mata masyarakat Sulsel yang menyukai karakter pemimpin kuat,” ujar Arfan saat ditemui di Makassar.
Menurutnya, Fadil Imran bukan sekadar jenderal berprestasi, melainkan putra daerah mumpuni yang memiliki jaringan kultural dan struktur politik yang solid hingga ke tingkat akar rumput.
“Beliau ini memiliki modal sosiologis yang kental sebagai putra daerah asli.
Ditambah lagi posisinya saat ini sebagai Ketua Umum PBSI dan pejabat di Badan Otorita bentukan pusat menunjukkan eksistensinya tidak meredup pasca-pensiun dari Polri.







