Pada umumnya keluarga terdiri atas ayah, ibu, dan anak-anak. Ayah dan ibu berperan sebagai orangtua bagi anak- anaknya. Namun, dalam kehidupan nyata sering dijumpai keluarga dimana salah satu orang tuanya tidak ada. Keadaan ini disebut keluarga dengan orang tua tunggal. Orang tua tunggal merupakan orang tua yang secara sendirian membesarkan anak- anaknya tanpa kehadiran, dukungan, dan tanggung jawab pasangannya.
Setiap orang tidak pernah berharap menjadi orang tua tunggal, keluarga lengkap pasti idaman setiap orang, namun adakalanya nasib berkehendak lain. Pada kenyataannya, kondisi ideal tersebut tidak selamanya dapat dipertahankan atau diwujudkan. Banyak dari orang tua yang karena kondisi tertentu mengasuh, membesarkan dan mendidik anaknya sendiri.
Menurut Muhammad Hendra Cahyadi Ashary, S.H, C.PS, C.CA, C.MMI, C.SDM,C.HTC, C.NLPTC, C.SHNT, C.HTH, C.NLPTH, C.GHNC, C.HC, C.NLPC, C.IB, selaku Pemerhati Sosial juga Advokat & Konsultan Hukum di dalam keluarga dibutuhkan suasana hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak karena kerukunan di dalam rumah tangga sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembangan dan pendidikan anak. Anak adalah korban yang paling terluka ketika ayah ibunya memutuskan untuk bercerai. Anak merasakan ketakutan, ketika orangtua bercerai, anak takut tidak akan mendapatkan kasih sayang ayah ibunya yang tidak tinggal satu rumah.
Namun pada kenyataannya sudah menjadi kodrat manusia bahwa kebahagiaan, kesengsaraan, penderitaan, suka, duka, kerukunan, keharmonisan dan perselisihan merupakan peristiwa yang selalu datang silih berganti dalam kehidupan berumah tangga.
Perceraian mempunyai dampak negatif terhadap perkembangan psikologi anak, karena pada umumnya perkembangan psikologi anak yang orang tuanya bercerai sangat terganggu, selain itu faktor negatif dampak dari perceraian adalah kurangnya kasih sayang dan perhatian lagi dari kedua orang tuanya apa lagi jika orangtuanya memiliki pasangan baru masing-masing. Keutuhan rumah tangga dibutuhkan dalam membantu perkembangan psikologi dan pendidikan anak.
Kurangnya perhatian dan kasih sayang bagi anak terhadap perceraian orang tua anak menimbulkan perasaan cemas, bingung, resah, malu dan sedih bahkan bisa terjadi pembullyan juga nantinya. Terlebih bagi anak usia remaja, maka anak akan mengalami gangguan emosional dan akan lari pada kenakalan remaja seperti sex bebas, begal, dan narkoba, ujar MHCA.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perceraian memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap psikologis anak. Anak-anak mengalami kondisi dimana, mereka tidak menerima keberadaan ayahnya jika sang ayah membawa perempuan lain yang bukan ibunya sendiri. Dengan demikian, anak mengalami ketidaknyamanan di dalam berkomunikasi dengan ayahnya. Sehingganya, sang Ibu dari anak-anak tersebut, harus bisa mengatur waktu dalam berkomunikasi dengan ayahnya agar anak-anak tidak kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya meskipun sudah bercerai.
Hal ini dapat dimaklumi karena perceraian dapat menjadikan anak-anak bingung dengan kondisi rumah tangga yang berantakan, bahkan terkadang mereka juga merasakan hubungan dengan orang tua yang memburuk. Keadaan ini biasanya akan berpengaruh pada konsentrasi belajar anak, kondisi psikologisnya menjadi rapuh, terkadang anak menjadi stres dan frustasi bahkan bunuh diri.
Tidak ada ukuran berapa lama duka anak itu berlangsung. Ada sebagian anak yang segera bisa bangkit kembali seperti biasa berkat dukungan dari lingkungan keluarganya, tapi ada pula yang perlu waktu cukup lama untuk bisa bangkit seperti semula.
Perceraian memberikan dampak pada perkembangan anak. Perceraian berpengaruh pada psikologis anak yang membuat mereka kehilangan cinta dari kedua orang tuanya sehingga membuat salah satu sebab aspek perkembangan anak akan terhambat. Orangtua yang bercerai, akan berpengaruh pada psikologis anak diantaranya yaitu anak kurang mendapat perhatian, perlindungan dari rasa aman, cinta kasih sayang dari ayah dan ibunya.







