jejakterkini.online – Luar biasa demo besar hari ini. DPR RI yang biasanya kayak kambing congek, tiba-tiba mendengar. Bahkan, dengan lantang berjanji akan mensahkan RUU PA, 15 Desember 2026 depan. Apakah kalian percaya? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), dikomandoi Supriyono alias Botok, datang membawa dua tuntutan sederhana. Segera sahkan RUU Perampasan Aset dan hukum mati para koruptor. Sederhana, tetapi efeknya bisa bikin kursi empuk mendadak terasa panas.
Mereka tidak sendirian. Ada Aliansi Masyarakat Depok Bersatu, Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat alias GERAM dengan sepuluh tuntutan, serta Relawan Madura Pengawal Program Presiden yang datang membawa dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis.
Total ada 62 aksi penyampaian pendapat di Jakarta hari itu. Negara pun mengeluarkan pasukan level final boss, 18.504 personel gabungan dikerahkan. Sebanyak 4.274 personel khusus menjaga kawasan parlemen. Sementara 65 orang diamankan lebih dulu karena diduga membawa airsoft gun, botol kaca, sumbu, dan jeriken bensin.
Jakarta hari itu bukan demonstrasi biasa. Rasanya seperti festival demokrasi dengan tiket masuk berupa keringat dan risiko ditangkap.
AMPB sudah berkemah sejak dini hari akhirnya memperoleh kesempatan masuk. Sebanyak 14 perwakilan, termasuk Botok, diterima di Ruang Abdul Muis untuk bertemu Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Saan Mustopa, dan Cucun Ahmad Syamsurizal.
Nah, di sinilah episode paling absurd dimulai. Tiga pimpinan DPR duduk manis mendengarkan aspirasi rakyat Pati. Lalu lahirlah sebuah komitmen tertulis. Isinya bukan voucher belanja, bukan janji traktir kopi, tetapi target, RUU Perampasan Aset akan disahkan dalam Rapat Paripurna paling lambat 15 Desember 2026.
Kalau gagal? Pimpinan DPR menyatakan siap mundur. Bukan cuma dari kursi pimpinan, tetapi juga dari status anggota DPR.
Dasco mengatakan, “Kalau memang tidak selesai, ya kami mundur dari DPR ini, enggak apa-apa.”
Waduh. Ini baru janji. Kalau janji tetangga biasanya, “Besok saya bayar.” Ini malah, “Kalau gagal, saya keluar DPR.” Rakyat tentu langsung melongo. Kulkas pun mungkin ikut bertepuk tangan.
Komitmen tersebut kemudian diperkuat dalam Rapat Paripurna ke-3 masa sidang yang sama. Botok menyaksikan langsung dari balkon. Ketua Komisi III Habiburokhman melaporkan progres pembahasan RUU sudah berjalan sejak tahun sebelumnya dengan melibatkan puluhan narasumber.
Dasco meminta persetujuan anggota dewan. “Setuju!” Serempak.
Suara itu mungkin terdengar sampai Pati. Bahkan burung-burung di Senayan barangkali berhenti berkicau karena penasaran, ini betulan atau trailer? Ketua DPR Puan Maharani juga mengonfirmasi target 15 Desember 2026 tersebut.
Surat komitmen kemudian dibacakan Botok dari atas mobil komando di depan massa. Sorak-sorai pun pecah. Rasanya seperti Indonesia baru saja memenangkan Piala Dunia. Padahal yang dimenangkan baru selembar surat berisi janji.
Sekitar pukul 12.30 WIB, massa AMPB membubarkan diri dan kembali ke Pati menggunakan bus. Oleh-olehnya bukan oleh-oleh khas Jakarta, tetapi fotokopi surat komitmen mungkin akan dilaminasi, dibingkai, lalu dipajang di ruang tamu.
Sementara itu, massa GERAM yang datang sore hari masih sempat membakar ban di kolong Flyover Gerbang Pemuda, menggoyang pagar, dan melempar botol air minum ke dalam kompleks. Lalu lintas Gatot Subroto dan akses keluar Tol Slipi sempat ditutup situasional, sementara TransJakarta dialihkan.
Namun, satu hal sudah tercatat, rakyat Pati berhasil membuat pimpinan DPR meneken janji politik dengan konsekuensi pengunduran diri. Sekarang kalender punya satu tanggal keramat baru, 15 Desember 2026. Bukan Idulfitri. Bukan Natal. Bukan Tahun Baru.
Itulah hari ketika rakyat akan melihat apakah RUU Perampasan Aset benar-benar diketok, atau justru rakyat kembali mendapatkan menu langganan, yakni janji hangat, harapan dingin, lalu episode berikutnya.
Sebab dalam demokrasi, rakyat boleh membawa tuntutan. DPR boleh membuat komitmen. Tetapi sejarah punya kebiasaan kejam, ia selalu datang membawa bukti. Bukti janji yang tak terbukti.
“Bang, ingat ndak dewan yang dinepalkan warga dulu. Mereka bernjanji mundur dari kursi di Senayan. Sekarang, mereka masih di Senayan, dan berjanji lagi.”
“Itulah kerja mereka, wak. Berjanji.” Ups












