jejakterkini.online – Nama Basri Kajang mendadak menjadi episentrum perhatian dan figur yang paling dicari dalam rangkaian sidang Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket DPRD Gowa. Dalam setiap persidangan yang digelar maraton belakangan ini, nama pria tersebut terus-menerus digulirkan oleh sejumlah saksi kunci yang dihadirkan di hadapan para anggota dewan. Di ruang sidang, ia kerap disebut secara bergantian dengan berbagai inisial dan nama sapaan, mulai dari ‘BK’, ‘Ombas’, hingga nama lengkapnya, Muhammad Basri.
Nama konsultan politik ini mencuat ke permukaan bukan tanpa alasan, melainkan karena terseret dalam pusaran isu sens*itif yang tengah didalami oleh Pansus. Basri Kajang menjadi buah bibir setelah kesaksian para saksi diataranya seorang mahasiswi bernama Rezqila mengungkap adanya dugaan hubungan kedekatan pribadi antara dirinya dengan sang Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang. Hubungan intens inilah yang kemudian diduga memicu dinamika non-teknis, hingga berujung pada keputusan kontroversial pencabutan sepihak bantuan beasiswa doktoral milik Rezqila yang dipicu oleh isu kecemburuan asmara di lingkaran kekuasaan.
Di balik riuh rendah tudingan di ruang sidang, Basri Kajang sebenarnya merupakan seorang profesional yang cukup mapan di dunia industri kreatif dan konsultan taktis di Sulawesi Selatan. Berdasarkan hasil penelusuran Update Info Sulsel melalui profil LinkedIn miliknya, pria yang kini berdomisili di Makassar tersebut merupakan seorang pakar di bidang media dan strategi politik. Sejak September 2017 hingga saat ini, ia masih tercatat aktif menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) dari jaringan media digital makassar.tv.
Rekam jejak Basri di dunia pemenangan politik juga terbilang cukup solid. Ia tercatat pernah menempati posisi strategis sebagai Project Manager di PT Parameter Strategi Indonesia untuk periode Agustus 2018 hingga Agustus 2019. Dalam portofolio profesionalnya, ia menguasai keahlian khusus di bidang analisis data strategis, riset pasar, manajemen program, serta perancangan strategi pemenangan untuk para kandidat yang bertarung dalam kontestasi politik lokal.
Melihat latar belakang akademisnya, kepiawaian Basri dalam mengolah data strategis ternyata berakar dari pendidikan eksakta. Pria yang menghabiskan kesehariannya di Kota Daeng ini merupakan alumnus Universitas Negeri Makassar (UNM). Ia menempuh pendidikan tinggi di jurusan Teknik Elektro dan berhasil menyelesaikan studinya dalam kurun waktu lima tahun, yakni pada periode 2002 hingga 2007 silam.
Kini, reputasi profesional yang telah dibangun oleh Basri Kajang selama bertahun-tahun harus menghadapi ujian berat di ruang publik. Keterkaitannya dalam lingkaran int*im pemerintahan Gowa, yang awalnya murni sebagai konsultan politik pemenangan Pilkada, kini justru bergeser menjadi bola liar yang diselidiki parlemen. Pansus Hak Angket DPRD Gowa pun terus mengejar kepastian, sejauh mana peran dan pengaruh personal ‘BK’ ini dalam memengaruhi kebijakan-kebijakan strategis daerah, termasuk penggunaan anggaran pendidikan yang kini diduga kuat telah diselewengkan.













