jejakterkini.online – Sejumlah mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) akan menggelar aksi unjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026).
Aksi bertajuk ‘Merebut Kemerdekaan’ itu akan diikuti 500 mahasiswa UI. Selain mahasiswa UI, 1.000 mahasiswa dari berbagai kampus juga melakukan aksi unjuk rasa.
Berdasar kan pemantauan di lapangan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UI, Kampus Depok pada pukkel 10.00 WIB, massa sudah mulai berdatangan.
Mahasiswa yang berasal dari lintas fakultas tersebut terlihat mengenakan pakaian serba hitam dan jas almamater UI berwarna kuning.
Mereka juga membawa sejumlah spanduk berisi tuntutan dan aspirasi yang akan disampaikan dalam aksi di Bundaran HI.
Beberapa tulisan yang terlihat di spanduk antara lain, “Katanya Merdeka, Nyatanya Sengsara” dan “Dulu Dijajah Penjajah, Sekarang Dijajah Penguasa”.
Selain spanduk, mahasiswa membawa perbekalan berupa makanan dan air minum untuk kebutuhan selama aksi. Sebanyak 22 angkutan kota (angkot) juga disiagakan untuk mengangkut massa mahasiswa menuju Bundaran HI.
Sekitar 1.000 Mahasiswa Ikut Aksi
Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan atau Athof, mengatakan aksi tersebut diikuti mahasiswa dari sejumlah kampus.
Ia menyebut total massa yang telah didata bersama kampus-kampus lain mencapai sekitar 1.000 mahasiswa. Dari jumlah tersebut, sekitar 500 orang berasal dari UI.
“Total kalau misalkan massa pendataan kami bersama kampus-kampus lain ada sekitar 1.000, UI ada 500,” kata Athof.
Athof mengatakan keputusan mahasiswa turun ke jalan merupakan bentuk pertanggungjawaban moral terhadap kondisi yang mereka nilai menunjukkan adanya penindasan terhadap rakyat.
Ia juga mengingatkan kembali bahwa Indonesia didirikan sebagai negara yang seharusnya dimiliki oleh seluruh rakyat, bukan kelompok tertentu.
Kritik Kebijakan Pemerintah
Dalam aksi tersebut, BEM UI turut menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Athof menyoroti apa yang ia nilai sebagai kolaborasi antara kekuasaan eksekutif dan legislatif dalam melahirkan sejumlah kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat kecil.
“Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, slogan ‘Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur’ hanya omong kosong belaka,” ujar Athof.
Ia juga menyinggung persoalan penegakan hukum, termasuk rentetan penangkapan yang dinilainya dilakukan secara sewenang-wenang terhadap kalangan pemuda.
Selain itu, Athof menyoroti tindakan yang disebutnya sebagai represi terhadap media sejak Agustus tahun lalu.
Soroti Lapangan Kerja, Pendidikan, dan Kesehatan
Tak hanya persoalan hukum dan demokrasi, BEM UI juga menyoroti kondisi ekonomi masyarakat.
Menurut Athof, ketersediaan lapangan kerja berkualitas masih menjadi persoalan yang mengancam masa depan generasi muda Indonesia. Ia juga menyinggung hak dasar masyarakat yang menurutnya seharusnya dijamin negara.
“Amanat konstitusi mengenai pendidikan dan kesehatan gratis berkeadilan sekarang hanyalah omong kosong belaka,” pungkas Athof.
Melalui aksi bertajuk “Merebut Kemerdekaan” tersebut, mahasiswa BEM UI dan sejumlah kampus lainnya berencana menyampaikan tuntutan sekaligus mengawal persoalan yang mereka nilai masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah.
Pengamanan Aksi dan Tuntutan Front Mahasiswa Nasional (FMN) UI
Sementara itu, Polda Metro Jaya menggelar apel pengamanan aksi unjuk rasa mahasiswa dan elemen masyarakat di Lapangan Polda Metro Jaya, Selasa (18/8/2026).
Berdasarkan pantauan, terdapat sekitar ribuan personel dari berbagai satuan Sabhara, Lantas, Gakkum, hingga satuan elite Brimob. Sejumlah kendaraan taktis (rantis) turut dikerahkan untuk mendukung pengamanan aksi.
Adapun aksi penyampaian pendapat yang dibawa Front Mahasiswa Nasional (FMN) UI bersama sejumlah organisasi mahasiswa bertajuk ‘Merebut Kemerdekaan’ yang rencananya digelar di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta.
Ketua FMN UI Axel Wirasakti mengatakan aksi tersebut merupakan kelanjutan dari gerakan mahasiswa yang telah dilakukan sebelumnya pada Juni 2026.
“FMN UI bersama dengan gerakan Demokratis mahasiswa seperti BEM UI, PNJ, IPB akan menyelenggarakan aksi demonstrasi kembali, 18 Agustus 2026,” kata Axel dalam keterangannya kepada Tribunnews.com, Selasa (18/8/2026).
Menurut Axel, mahasiswa masih membawa sejumlah tuntutan yang berkaitan dengan kondisi masyarakat.
Salah satunya yakni mendesak pemerintah menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
“Kami masih dalam komitmen yang sama, mendesak tuntutan utama rakyat untuk dimenangkan, kami tetap menuntut untuk dihentikannya program MBG dan KDMP, mahasiswa butuh pendidikan gratis sampai jenjang kuliah,” ujarnya.
Selain itu, FMN UI mendesak pemerintah menurunkan harga bahan pokok dan bahan bakar minyak (BBM). Menurut mereka, harga kebutuhan pokok dan BBM menjadi persoalan yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam isu demokratisasi, mahasiswa juga menuntut penghentian tindakan represif serta militerisme di ranah sipil. Mereka turut meminta agar Yonif Teritorial Pembangunan (Yon TP) dibubarkan.
“Di tambah soal demokratisasi, kami menuntut untuk dihentikannya represifitas, hentikan militerisme ranah sipil, serta bubarkan Yon TP,” kata Axel.
FMN UI juga mendesak pemerintah menarik kembali pernyataan-pernyataannya dalam pidato yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi kehidupan masyarakat.
Axel mengatakan massa aksi akan berangkat dari kampus UI Depok menuju lokasi demonstrasi di kawasan Bundaran HI, Jakarta.













