Petaka “Makan Bergizi”, Jerit Pilu Ayah Siswi SMAN 1 Berastagi yang Saraf Otaknya Rusak

Berita5 Views

jejakterkini.online – Sebuah program negara yang seharusnya membawa kesehatan dan gizi bagi anak sekolah, seketika berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan nyawa. Niat hati menyantap hidangan Makan Bergizi Gratis (MBG), ratusan siswa di Kabupaten Karo justru bertumbangan.

Di antara lebih dari 350 anak yang dilarikan ke rumah sakit pada Kamis, 13 Agustus 2026 lalu, ada satu kisah pilu yang menyayat hati dari ruang perawatan. Ini bukan sekadar kasus sakit perut biasa, melainkan tragedi hilangnya masa depan seorang anak bernama Krismas Dayanti br Sihite, siswi SMA Negeri 1 Berastagi.

Berikut adalah potret nyata bagaimana kecerobohan pihak penyedia makanan telah merenggut kesehatan anak-anak rakyat kecil:

1. Saraf Rusak dan Leher yang Kaku

Kondisi Krismas saat ini jauh dari kata membaik. Ayahnya, Bapak Sihite, membagikan kesaksian yang membuat siapa pun yang mendengarnya akan merinding. Anaknya kini terbaring linglung, seolah kehilangan kesadarannya.

Dokter membawa kabar yang sangat berat: saraf otak Krismas bermasalah akibat racun tersebut. Penderitaan fisik yang dialami gadis ini sangat parah:

Tidak Bisa Menelan: Lehernya kaku seperti terjepit. Untuk minum air setetes saja, lehernya harus ditarik pelan-pelan.

Perut Terbakar: Ia merasakan panas yang luar biasa dari perut hingga menembus ke ulu hati.

Bisu dan Terus Muntah: Hingga detik ini, Krismas belum bisa berbicara. Makanan yang masuk akan langsung dimuntahkan kembali.

Jeritan Tengah Malam: Dalam satu malam, gadis malang ini bisa menjerit kesakitan sampai tiga kali, membuat para perawat harus bergegas berlarian menenangkannya.

Setelah sempat dirawat di RS Efarina hingga jatuh pingsan dan sesak napas, Krismas kini dirujuk ke RS Haji Medan karena kondisinya membutuhkan penanganan medis tingkat tinggi.

2. Nasib Bapak Sihite: Istri Tiada, Pekerjaan Terhenti

Hancurnya kesehatan Krismas adalah hancurnya tulang punggung keluarga ini. Bapak Sihite, sang ayah, mengaku pikirannya sudah sangat buntu dan linglung.

Beban hidupnya berlipat ganda. Sang istri (ibu dari Krismas) telah meninggal dunia. Sejak anaknya keracunan dan harus dijaga 24 jam di rumah sakit, Bapak Sihite terpaksa berhenti bekerja. Tidak ada penghasilan yang masuk, sementara biaya hidup di rumah sakit terus berjalan.

Beruntung, masih ada tangan-tangan baik dari masyarakat. Pihak Macab LMP Karo, setelah mendapat kabar dari E Widi Manik, turun langsung memberikan bantuan dana jaga agar Bapak Sihite setidaknya bisa bernapas dan fokus menemani putrinya di masa kritis ini.

3. Ikan Busuk di Piring Sekolah: Siapa yang Untung?

Bagaimana mungkin makanan yang dibiayai oleh uang negara bisa menjadi racun?

Kesaksian dari para siswa yang menjadi korban menguak fakta mengerikan: lauk ikan yang disajikan hari itu sudah tercium berbau busuk dan rasanya asam. Setelah dipaksa makan, ratusan anak langsung mengalami gatal di leher, pusing berputar, sakit perut hebat, hingga kejang-kejang.

Ini adalah bukti nyata adanya kelalaian parah, atau bahkan pemangkasan kualitas bahan baku oleh pihak pemasok makanan (katering). Makanan yang sudah tidak layak konsumsi dipaksakan masuk ke perut anak-anak kita.

4. Menuntut Pertanggungjawaban Mutlak!

Saat ini, Dinas Kesehatan Sumatera Utara dan pihak Kepolisian sedang menguji sampel makanan tersebut di laboratorium. Sebagian besar dari 350 siswa memang sudah pulang, namun kasus Krismas dan satu anak lain yang dirujuk ke RS Bina Kasih Medan adalah bukti bahwa racun ini sangat mematikan.

Tragedi ini tidak boleh hanya berhenti pada ucapan “maaf” atau sekadar denda administratif. Harus ada hukum yang ditegakkan dengan keras:

Periksa Pemasok Makanannya: Siapa pemborong atau pihak katering yang berani memasak ikan busuk untuk anak sekolah? Mereka harus diseret ke meja hijau!

Usut Anggarannya: Jangan-jangan ada uang gizi yang disunat di tengah jalan, sehingga bahan makanan yang dibeli adalah bahan sisa atau bahan basi yang murah.

Negara Harus Tanggung Jawab Penuh: Pemerintah tidak boleh tutup mata. Seluruh biaya pengobatan dan pemulihan saraf Krismas hingga ia bisa bersekolah dan hidup normal kembali, wajib ditanggung sepenuhnya oleh pihak penyelenggara program MBG.

Kasus Krismas adalah tamparan keras bagi pengawasan program negara. Rakyat kecil sangat bersyukur jika anak-anaknya diberi makan siang gratis. Tapi jika makanan itu adalah sisa bahan busuk yang merusak saraf otak dan menghancurkan keluarga miskin, maka ini bukan lagi program bantuan, melainkan kejahatan kemanusiaan yang harus diadili!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *