jejakterkini.online – Rencana kegiatan outing class yang akan dilaksanakan SMP Negeri 12 Makassar di Malino, Kabupaten Gowa, pada 29 Agustus 2026 mendatang menuai keluhan dari sejumlah orang tua siswa.
Keluhan tersebut terutama berkaitan dengan biaya kegiatan yang disebut mencapai Rp180 ribu per siswa. Selain persoalan biaya, orang tua juga mempertanyakan lokasi kegiatan yang dinilai cukup jauh dari Kota Makassar serta mekanisme pembayaran bagi siswa yang tidak mengikuti kegiatan.
Berdasarkan informasi yang diterima dari salah satu orang tua siswa, setiap peserta kegiatan dikenakan biaya sebesar Rp180 ribu.
Salah satu orang tua siswa yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku keberatan dengan rencana kegiatan tersebut. Menurutnya, dalam beberapa bulan terakhir, berbagai kebutuhan sekolah maupun kegiatan siswa telah membuat pengeluaran keluarga bertambah.
“Kami jujur, beberapa bulan ini banyak pengeluaran dan semuanya berdesakan. Kami juga terbatas masalah ekonomi. Kami paham pendidikan memang butuh uang, tapi kalau begini kami juga kesusahan,” ungkapnya saat dihubungi, Kamis (27/8/2026).
Ia menjelaskan, keluhan tersebut bukan semata-mata karena tidak mendukung kegiatan siswa. Namun, menurutnya, waktu pelaksanaan kegiatan yang berdekatan dengan berbagai kegiatan lainnya membuat sebagian orang tua harus kembali mengeluarkan biaya dalam waktu yang relatif singkat.
Menurutnya, sejumlah kegiatan siswa dalam sebulan terakhir dinilai cukup berdekatan. Kondisi tersebut membuat sebagian orang tua merasa terbebani ketika kembali harus menyiapkan biaya untuk kegiatan outing class.
“Kegiatan siswa berdekatan sebulan terakhir ini. Ini lagi, kami sudah pusing. Ini juga dikeluhkan sebagian orang tua,” tambahnya.
Pertanyakan Lokasi Kegiatan
Selain persoalan biaya, orang tua tersebut juga mempertanyakan pemilihan lokasi kegiatan yang berada di Malino, Kabupaten Gowa.
Ia menilai jarak tempuh menuju Malino cukup jauh apabila dibandingkan dengan sejumlah lokasi edukatif maupun tempat rekreasi yang tersedia di dalam Kota Makassar.
Menurutnya, sekolah sebenarnya masih dapat memilih lokasi yang lebih dekat sehingga biaya kegiatan dapat ditekan dan siswa tidak perlu menempuh perjalanan terlalu jauh.
“Saya sempat pertanyakan kenapa jauh sekali, kenapa tidak yang dekat-dekat saja. Padahal kan ada ji di Makassar yang bisa dikunjungi,” tuturnya.
Ia mengaku mendapatkan penjelasan bahwa kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari acara perpisahan siswa karena nantinya tidak ada lagi kegiatan serupa.
“Tapi katanya ini juga sekalian acara perpisahan karena nanti tidak ada mi acara itu,” lanjutnya.
Meski demikian, ia berharap pihak sekolah dapat mempertimbangkan kondisi ekonomi masing-masing keluarga siswa sebelum menetapkan kegiatan yang membutuhkan biaya.
Menurutnya, tidak semua orang tua memiliki kemampuan ekonomi yang sama sehingga kebijakan terkait pembiayaan kegiatan siswa perlu disampaikan secara terbuka dan mempertimbangkan kondisi orang tua.
Persoalkan Subsidi Silang
Hal lain yang menjadi perhatian orang tua adalah mekanisme pembayaran bagi siswa yang tidak mengikuti kegiatan.
Ia mengaku mendapatkan informasi bahwa siswa yang tidak berangkat tetap diwajibkan membayar biaya kegiatan dengan alasan adanya mekanisme subsidi silang.
Informasi tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan dari sebagian orang tua karena mereka merasa tetap harus mengeluarkan biaya meskipun anaknya tidak mengikuti kegiatan.
“Kalau siswa tidak pergi katanya harus bayar juga untuk subsidi silang, masa harus begitu. Sama saja bilang kita bayar,” ujarnya.
Menurutnya, apabila memang terdapat mekanisme subsidi silang, seharusnya pihak sekolah memberikan penjelasan secara langsung kepada seluruh orang tua mengenai mekanisme tersebut, termasuk siapa yang disubsidi, bagaimana prosesnya, dan bagaimana pertanggungjawaban biaya kegiatan.
Ia berharap persoalan tersebut dapat dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman antara pihak sekolah dan orang tua siswa.
Informasi Dinilai Belum Disampaikan Langsung
Orang tua tersebut juga mengaku mempertanyakan pola penyampaian informasi mengenai kegiatan outing class.
Menurutnya, informasi mengenai rencana kegiatan tersebut justru diperoleh dari anaknya, bukan melalui pemberitahuan langsung dari pihak sekolah kepada orang tua.
“Ini juga info dari anakku ji langsung, bukan dari gurunya. Padahal kita mau tahu bikin apa di Malino, kenapa tidak disampaikan ke orang tua siswa langsung dari guru mata pelajarannya,” keluhnya.
Ia berharap setiap kegiatan yang melibatkan siswa dan membutuhkan biaya dapat diinformasikan kepada orang tua secara resmi.
Menurutnya, penyampaian informasi secara langsung penting agar orang tua mengetahui tujuan kegiatan, jadwal, lokasi, biaya, fasilitas yang diperoleh siswa, hingga mekanisme pembiayaan bagi keluarga yang mengalami keterbatasan ekonomi.
Dinas Pendidikan Akan Tindaklanjuti
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kota Makassar, Andi Akhmad Muhajir Arif, S.STP., M.E-Gov., mengatakan pihaknya belum menerima informasi terkait kegiatan outing class tersebut dari pihak sekolah.
Ia mengatakan Dinas Pendidikan Kota Makassar akan terlebih dahulu meminta penjelasan kepada pihak sekolah untuk mengetahui secara jelas mengenai rencana kegiatan tersebut.
“Kami belum dapat info dari pihak sekolah terkait kegiatan ini. Kami akan tindaklanjuti dan meminta klarifikasi terlebih dahulu dari pihak sekolah,” katanya saat dihubungi.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Dinas Pendidikan masih akan melakukan pengecekan terhadap informasi yang beredar, termasuk terkait biaya kegiatan dan mekanisme pelaksanaannya.
Dinas Pendidikan juga akan meminta klarifikasi kepada pihak sekolah sebelum mengambil langkah lebih lanjut terkait keluhan yang disampaikan orang tua siswa.
Sekolah Luruskan Informasi
Terpisah, Kepala SMP Negeri 12 Makassar, Habibah, memberikan klarifikasi terkait rencana kegiatan outing class tersebut.
Habibah menegaskan bahwa seluruh siswa diwajibkan mengikuti kegiatan yang akan dilaksanakan di Malino.
Namun, ia membantah apabila siswa yang memiliki keterbatasan ekonomi akan dilarang mengikuti kegiatan karena tidak mampu membayar biaya sebesar Rp180 ribu.
Menurutnya, siswa yang tidak mampu tetap diperbolehkan mengikuti kegiatan dengan mekanisme subsidi silang.
“Jadi saya luruskan informasinya, semua siswa diwajibkan pergi. Bagi yang tidak mampu, silakan menghadap ke sekolah karena ini nantinya disubsidi silang, artinya para siswa saling membantu,” jelasnya melalui sambungan telepon.
Ia menjelaskan, mekanisme tersebut disiapkan agar kondisi ekonomi keluarga tidak menjadi penghalang bagi siswa untuk mengikuti kegiatan bersama teman-temannya.
Dengan demikian, siswa yang mengalami kendala dalam pembayaran tidak perlu khawatir tidak dapat mengikuti kegiatan.
Habibah mengatakan, pihak sekolah akan memberikan ruang kepada siswa maupun orang tua yang memiliki kendala ekonomi untuk menyampaikan kondisi tersebut kepada guru atau pihak sekolah.
Bukan Sekadar Rekreasi
Menurut Habibah, kegiatan outing class tersebut tidak semata-mata bertujuan untuk rekreasi.
Kegiatan itu juga diarahkan sebagai bagian dari proses pembelajaran di luar lingkungan sekolah sekaligus menjadi sarana bagi siswa untuk membangun kebersamaan dan kepedulian sosial.
Ia mengatakan, salah satu nilai yang ingin ditanamkan melalui kegiatan tersebut adalah sikap saling membantu di antara siswa.
“Tujuan kegiatan ini juga nantinya untuk mengajarkan siswa saling membantu dan peka terhadap persoalan sosial,” tambahnya.
Menurutnya, konsep subsidi silang yang diterapkan bukan dimaksudkan untuk membebani siswa yang tidak mengikuti kegiatan, melainkan menjadi bagian dari upaya agar seluruh siswa tetap dapat berpartisipasi tanpa terkendala kondisi ekonomi.
Habibah juga membantah anggapan bahwa informasi mengenai kegiatan tersebut baru disampaikan kepada siswa secara mendadak.
“Soal informasi yang dianggap dadakan itu tidak benar, sudah lama disampaikan,” tegasnya.
Siswa Kurang Mampu Tetap Bisa Ikut
Habibah kembali menegaskan bahwa siswa yang tidak mampu secara ekonomi tetap dapat mengikuti kegiatan meskipun tidak membayar biaya yang telah ditentukan.
Ia meminta siswa maupun orang tua yang mengalami kendala biaya untuk menyampaikan langsung kepada pihak sekolah agar dapat ditindaklanjuti.
“Jadi yang tidak mampu tetap pergi meski tidak membayar. Nanti menghadap sama guru kemudian disampaikan. Karena itu ada subsidi silang,” tandasnya.
Dengan adanya klarifikasi tersebut, pihak sekolah menegaskan bahwa persoalan kemampuan ekonomi tidak akan menjadi alasan bagi siswa untuk tidak mengikuti kegiatan outing class.
Di sisi lain, keluhan orang tua terkait besaran biaya, lokasi kegiatan, mekanisme subsidi silang, serta penyampaian informasi masih menjadi perhatian yang perlu dijelaskan secara terbuka.
Dinas Pendidikan Kota Makassar sendiri menyatakan akan menindaklanjuti persoalan tersebut dengan meminta klarifikasi dari pihak sekolah.
Hingga berita ini disusun, pelaksanaan kegiatan outing class SMP Negeri 12 Makassar di Malino dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 29 Agustus 2026.
Pihak sekolah menyatakan seluruh siswa diwajibkan mengikuti kegiatan, sementara siswa yang mengalami kendala ekonomi tetap dapat berangkat melalui mekanisme subsidi silang. (*)







