DI DEPAN SERATUS RIBU ORANG YANG BERDOA DI BAWAH MONAS, MENTERI AGAMA INI MENYAMPAIKAN KALIMAT YANG PALING SERING DIULANG MENJELANG HARI KEMERDEKAAN

Berita5 Views

jejakterkini.online – Ada momen yang selalu hadir menjelang 17 Agustus: seorang pejabat berdiri di podium, menyebut nama presiden, dan menyatakan bahwa negara ini sedang berjalan di jalur yang benar.

Sabtu malam, 1 Agustus 2026, momen itu kembali hadir. Kali ini di Lapangan Monumen Nasional, Jakarta Pusat, di hadapan sekitar seratus ribu orang yang mengenakan pakaian putih dan duduk lesehan di atas tikar dan paving block. Di antara lantunan selawat Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf dan doa lintas agama dari enam tokoh berbeda keyakinan, Menteri Agama Nasaruddin Umar naik ke podium dan menyampaikan sambutan.

“Di tengah dinamika global, kita patut bersyukur karena pembangunan Indonesia di bawah kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo Subianto berjalan pada jalur yang tepat,” kata Nasaruddin.

Prabowo sendiri tidak hadir malam itu. Menurut Nasaruddin, Presiden berhalangan karena tugas kenegaraan. “Izinkan saya menyampaikan salam hangat dari Bapak Presiden Republik Indonesia yang sesungguhnya sangat berkeinginan untuk hadir bersama-sama kita pada malam ini,” ujarnya.

Acara yang diselenggarakan Kementerian Agama bersama Istana itu adalah penanda resmi dimulainya Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia menjelang HUT ke-81 pada 17 Agustus 2026. Rangkaiannya: khataman Al Quran, salat Maghrib berjamaah, penampilan hadrah, shalawat kebangsaan bersama Habib Syech, hingga doa bersama yang dipimpin tokoh agama dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu.

Nasaruddin menyertakan beberapa data dalam sambutannya. Indeks kerukunan umat beragama di 2025 tercatat 77,89 persen, naik dari 76,47 persen di 2024, melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2025. Ia menyebut kondisi sosial dan politik Indonesia lebih kondusif dibanding sejumlah negara yang masih diliputi konflik. “Bangsa yang besar juga dibangun oleh kekuatan doa, keluhuran akhlak, dan kokohnya kerukunan antar sesama,” katanya.

Ia juga menyampaikan satu kalimat yang terasa lebih puitis dari yang lain: “Indonesia adalah lukisan Tuhan, jangan diacak-acak.”

Pernyataan Nasaruddin tentang arah kepemimpinan adalah pernyataan seorang menteri tentang atasannya, di forum resmi kenegaraan, dalam konteks seremonial menjelang hari kemerdekaan. Ia tidak menyertakan data spesifik tentang indikator pembangunan yang dimaksud selain kerukunan umat beragama.

Yang menarik justru bukan apa yang dikatakan malam itu, tapi siapa yang memilih hadir. Seratus ribu orang datang ke Monas. Sebagian datang karena ingin berdoa bersama menjelang hari kemerdekaan. Sebagian karena Habib Syech. Sebagian karena momen lintas agama yang jarang ada. Di antara semua motif yang membawa mereka ke sana, ada satu yang tidak perlu diminta: harapan bahwa negeri ini, dengan segala gejolaknya, memang sedang menuju ke tempat yang lebih baik.

Doa itu bukan milik pemerintah. Ia milik seratus ribu orang yang duduk di rumput Monas dan mendongak ke langit malam Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *